Uncategorized

Love Letter in 23

For Rahma Febrianti. 23 years from now.
생일 축하!

for myself in these past 23 years.. are you tired? happy? sad? or feeling grateful?
thank you so much for being the awesome me for 23 years. blood, sweat, tears, smile, laugh even frustrated feeling. it wasn’t easy but you’ve done your best to be strong no matter hard the world slapped you, you fell, you cried and you shouted but then you wiped your tears, you drank all the bitter that world served and you stood up like nothing happend.
ya Allah.. thank you so much for everything. whenever I looked back on my past… it’s like rope that tightened up my neck, made me unable to breath but then you gave me chance, a great chance to be better again.

you sent him to me, although in the end, he left a dark chocolate. bitter yet sweet. I still admire him. but never want him. thank you so much for everything ya Allah. forgive me. the sin me. I promise I’ll do my best to be the one whom you love.
dear my family… it’s hard. you might never know that I always pray for us. Mother, Father… no matter how hard time you passed, how much bad words shouted. please be the home for your children. I always feel soulless whenever you fight.
for my sisters, you all will always be the flowers of my life. please bloom beautifully inside and outside. no matter how much we fight, I’ll always love you guys.
for me in 23 years from now on… please be flower that blooms whenever you are. be the candle who never tired to light up the world. be the pencil that write history, be a good princess that serves your prince with love. be a good teacher for your children. and be the one who never feel tired, complain, and lose control.
you never know when world knock you down. but you always know how to stand up, pray, and fight with all of your heart.
for me in the future… please be kind to myself. always smile, feel grateful to Allah and fight for a better life.
aamiin.

Rahma Febrianti. 23 years old. Feb 16th, 2017.

the picture was screen-shotted when Taeyong reading a novel in last episode of Limitless Room

Uncategorized

Untuk Diriku di 22 Tahun

image

Hari ini tanggal 16 Februari. genap sudah usia saya 22 tahun.
saya merasa bahwa, terkadang saya harus menulis surat untuk diri saya setiap hari kelahiran.
jadi, ini surat sederhana berisi pesan untuk diri saya.

“untuk diriku di 22 tahun mulai dari sekarang..

ketahuilah bahwa hidup adalah perjalanan panjang dan tidak selalu mulus.
kita tidak pernah tau, di hari apa, jam keberapa hidup akan membawa kita pada rasa sakit dan kecewa yang akan dilalui.
kita tidak pernah tau kapan hidup akan membanting kita jatuh, dan kemudian membuat kita mengambil keputusan sulit.
satu-dua keputusan membuat kita bangga, tetapi lebih banyak membawa penyesalan.

tapi, tidak mengapa.
itu proses kehidupan.

proses yang akan membuat kita berdiri tangguh dengan keyakinan.
kita pun tidak pernah tau apakah kita akan menjadi sebab untuk sebuah kebaikan atau menjadi akibat dari kebaikan tersebut, pun sebaliknya dengan keburukan.

kita tidak pernah tau.

tapi kita harus tau setiap langkah, tindakan yang kita ambil harus meminta restu dan ridha Allah.
karena hakikatnya, hidup ini di dalam kuasa-Nya.
setiap helaan nafas pun harus dengan hebusan keikhlasan.

jika sudah begitu, kita mampu mengalahkan diri sendiri; egois, rasa tidak peduli, rasa takut, ragu-ragu dan ambisi.
kita akan mendapatkan kebahagiaan sejati dan bermanfaat bagi orang lain.

Rahma, hidup ini bukan selalu tentang menang dan kalah.
tapi tentang seberapa banyak kau meraih ridha Allah.

22 tahun kehidupanku, mari berjuang.
nikmati setiap prosesnya, nikmati setiap perjuangannya, nikmati setiap rasa sesak dan kecewa yang tumbuh ketika rencana tidak berjalan selaras dengan pilihan dari Allah. dan jika telah sampai di tempat tujuan, tumpahkan semuanya dengan air mata kebahagiaan.

untuk diriku di 21 tahun yang lalu..
terima kasih untuk setiap perjuangan, bulir keringat, tetesan air mata dan rasa sesak yang diterima.

kita sadar begitu banyak hitam yang kita lihat sehingga cahaya kecil pun mampu mengukir senyum syukur di bibir, menumbuhkan buncah semangat dan tetesan air mata bahagia.

sudah 21 tahun, dan kita belum bisa mendapatkan apa yang kita cita-citakan, belum mengukir kebahagiaan di keluarga dan belum menjadi pribadi yang bermanfaat.

tapi, kita sudah bertemu dengan orang hebat, orang-orang yang membuat kita mengerti arti dari perjuangan dan kerja keras, arti dari bermanfaat untuk orang lain dan membuat kita gemetar antusias untuk melampaui mereka.

21 tahun kehidupanku,terima kasih untuk setiap proses pahit yang membawa ke 22 tahun.”

untuk kedua dimensi diriku, 21 tahun dan 22 tahun… terima kasih.

About Love, Uncategorized

Gelas Kosong

Beberapa waktu lalu adik kelas saya bertanya tentang mengapa rasa itu masih ada?

Saya sering sekali melihat hal ini. Anak muda Indonesia selalu berada dalam dunia mereka yang sempit, that they called it as LOVE.

Pasti, hampir setiap hari kita membaca status teman tentang kisah hidupnya, deritanya yang menjadi jomblo ataupun mereka yang baru saja pacaran?

ah, hal itu biasa. Saat saya menulis ini pun, saya masih bertanya, “Apa yang salah dengan mereka?”, atau lebih tepatnya, “Kenapa saya se-sarkas ini dalam hal cinta?”

Perlu kalian ketahui, bahwa, hidup ini tidak selalu tentang cinta.

Mari kembali ke awal cerita. Adik kelas saya ini pun baper ketika menyinggung sang mantan calon gebetan.

Saya beri sebuah perumpamaan, kita anggap saja bahwa diri kita ini gelas kosong. Mereka yang datang di hidup kita seperti air yang dituang ke dalam gelas? Apa yang kita rasakan? Perasaan penuh? hampir meluber? Iya, tepat sekali. Perasaan berubah ini pun menimbulkan riak senang di hati.

Namun, ketika mereka pergi, baik itu karena kita yang menumpahkan gelas ataupun dia yang menumpahkan isi gelas, keduanya sama saja, akan meninggalkan bekas. Kalian akan lihat bahwa sisa air masih ada di permukaan gelas. Masih tersisa di dasar gelas. begitu pun cinta kalian.

Perasaan yang tidak bisa dicerna dengan logika ini begitu dahsyat dampaknya walau cuma setetes air yang tersisa. Karena apa? Itu karena kita tidak mau menghapusnya. Menghilangkannya. Kita terlalu naif untuk mengakui bahwa dari awal kita hanya secangkir gelas kosong.

Maka dari itu, berhati-hatilah dalam memenuhi gelas dengan air.